Di jalan Dakwah: Ada yang Masa Bodoh, Tapi Allah Sangat Peduli [Renungan Untuk Para Kader Dakwah]

  • Oleh: Ust. Dwi Cahyo

    Mengenali tampilan fisik memang lebih mudah. Itulah sebabnya, kita pun sering salah menilai. Padahal, jika kita menelisik lebih dalam, mereka yang ‘berseragam sama’ menyimpan kualitas diri yang berbeda. Di jalan dakwah ada yang berdarah-darah, tapi ada pula yang bersikap masa bodoh. Di jalan dakwah ada yang berkorban habis-habisan, tapi ada pula yang sedikit pun telah terasa berat ditanggungkan.

    Seseorang memang bisa mengenakan seragam Timnas kita, lengkap dengan nomor punggung dan nama pemain. Akan tetapi, jika ia berdiri di tribun, berteriak sekencang apapun, ia tetaplah penonton dan bukan pemain. Saya sering merasa sedih, jangan-jangan saya tak lebih dari sekedar penonton dan bukan pemain di jalan dakwah ini. Orang mengenal saya sebagai pegiat di jalan dakwah, tetapi kenyataannya saya bermental penonton saja.

    Salah satu ciri ‘mental penonton’ adalah masa bodoh. Mereka bersorak di luar lapangan, tapi minim kontribusi dalam pertandingan. Apakah tidak penting keberadaan penonton? Tentu saja penting. Tapi di jalan dakwah kita semestinya bersikap sebagai pemain. Keterlibatannya optimal. Pengorbanannya juga maksimal. Seringkali frekuensi kita dengan sesama ikhwah tidak sama. Sebagian orang sudah berlari, kita masih santai berdiam diri. Banyak orang sudah bergerak, kita masih berdiri tegak. Kenapa? Wallahu a’lam. Lebih baik kita menelisik diri sendiri. Jangan sampai kita menjadi ‘toxic cadre’ — kader-kader beracun dan bermasalah. Hilang orientasi, lemah kontribusi. Maka, baik kiranya jika kita memperluas acuan. Di luar diri kita ada banyak ikhwah yang penuh keterbatasan, tapi berkorban sepenuh jiwa raga.

    Ada guru SDIT yang menyanggupi perbulan 200 ribu untuk pemenangan dakwah. Kita bisa bertanya-tanya berapa gaji yang beliau dapatkan? Berapa yang masih tersisa setelah dikurangi 200 ribu itu? Sementara kita memberi dua ratus ribu yang sama terasa berat dan sudah menganggap besar. Padahal, income yang diperoleh jauh lebih besar dibanding sang guru itu. Kita sering bersikap masa bodoh, tapi sang guru itu punya keyakinan lain: Allah ta’ala pasti sangat peduli.

    Kisah-kisah lain yang dapat dijadikan acuan saya kira banyak. Kenali dan simak dengan seksama agar kita memiliki frekuensi yang sama dalam berjuang dan berkorban. Orang boleh menuduhkan banyak hal tentang dana dakwah kita, tapi kita sangat paham bahwa dari kantong-kantong kitalah dakwah ini dihidupi. Menyimak pengorbanan banyak ikhwah yang ikhlas itu, rasa-rasanya kita perlu menelisik seberapa besar kita telah berkorban. Jika kita menganggap bahwa yang kita lakukan telah optimal, jangan-jangan kita hanya kurang acuan saja? Masih banyak ikhwah yang jauh lebih lelah di jalan dakwah. Jika uang yang diinfakkan di jalan dakwah ini telah dianggap banyak, jangan-jangan karena kita kurang referensi saja. Ada banyak ikhwah yang berkorban maksimal di tengah keterbatasan dirinya.

    Teringat kita pada Ulbah bin Zaid, salah seorang dari tujuh sahabat yang datang kepada Rasulullah sambil menangis. Al Bakka’un, sebutan tujuh orang itu. Mereka datang hendak meminta kendaraan agar bisa turut serta dalam Perang Tabuk. Sayang permintaan itu tak terpenuhi sebab beliau tidak memiliki sesuatu yang dapat membawa mereka. Mereka kembali sambil berlinang air mata.

    Malam harinya Ulbah bin Zaid berdoa, “Ya Allah, Engkau telah memerintahkan berjihad maka akupun mencintainya. Kemudian Engkau tidak jadikan untukku apa yang menguatkanku dalam jihad ini, dan Engkau juga tidak menjadikan pada Rasulullah kendaraan yang dapat membawaku dalam jihad ini. Dengan ini aku bersedekah terhadap setiap muslim dengan kedzaliman mereka yang menimpaku baik pada harta, jasad, dan kehormatan.”

    Pagi harinya, tatkala ia bersama sahabat lain, Rasulullah bertanya, “Dimanakah orang yang bersedekah semalam?” Tapi tak seorang pun berdiri. Rasul kembali bertanya dan berdirilah Ulbah bin Zaid. “Bergembiralah,” kata Rasulullah, “Sedekahmu telah diterima.”

    Kisah tentang Ulbah bin Zaid adalah kisah tentang kepedulian di jalan dakwah. Lelaki dari Bani Haritsah itu tidak memilih untuk bersikap masa bodoh. Di tengah keterbatasannya, ia ingin berkiprah. Tangis Ulbah bin Zaid adalah tangis kepedulian di jalan kebenaran. Tak mengherankan jika Allah abadikan kisahnya dalam Al-Quran surah at-Taubah ayat 92. Hari ini kita memperlajarinya.

    Di jalan dakwah, ada banyak yang bersikap masa bodoh, tapi yakinlah bahwa Allah sangat peduli. []

Posted on 12/06/2013, in :Syiar Kampus:. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: