Ada yang Salah Dalam Jamaah Ini!

Awalnya saya orang yg bermasalah dari sisi kehadiran di liqo (pertemuan), tidak perlu ditanya tentang aktifitas yaumiyah; tilawah, al matsurat, qiyamul lail, dhuha, hafal Qur’an dan Hadits, shalat berjamaah dimasjid, aktifitas sosial kemasyarakatan dll, semua garis datar (-) atau kali (x) ketika mengisi di daftar mutabaah. Kehadiran saya sudah terlalu membahagiakan teman2 se-pertemuan dan ustadz pembimbing jika sebulan datang sekali.

Selanjutnya saya menjadi penggangguran da’wah. Dikasih amanah, namun karena alasan kesibukan kerja, urusan keluarga, dll, amanah tidak ada yang terlaksana. Di tengah kelemahan iman itu, saya mulai bernostalgia dengan masa lalu: mengapa organisasi ini tidak seperti dulu lagi. Semua terasa hambar. Semangat itu mulai hilang. Dan saya mulai berkesimpulan ADA YANG SALAH DENGAN ORGANISASI INI.

Berikutnya saya mulai menjadi “KOMENTATOR DA’WAH”. Mulailah mengomentari satu persatu masalah yg ada di organisasi; mulai dari anggota dewan yang rangkap jabatan jadi ketua dakwah level Kabupaten, anggota dewan yang studi banding, ustadz yang tidak bisa mengurusi keluarganya, acara yang biasa diadakan di masjid kini pindah ke hotel, ustadz-ustadz yang biasa menenteng Al Quran di tangannya kini lebih senang memainkan communicator saat diwawancarai oleh media dan masih banyak masalah jamaah yang tidak luput dari komentar saya. Pokoknya waktu itu saya sukses menjadi KOMENTATOR.

Selain sukses jadi komentator, saya juga sukses mempengaruhi beberapa teman pertemuan untuk bersama-bersama menjadi PENGANGGURAN sekaligus KOMENTATOR. Setelah itu, saya memutuskan untuk CUTI dari pertemuan. Hal yang paling membuat mantap saya untuk CUTI PERTEMUAN adalah karena Ustadz kesayangan saya, yang menjadi Murobbi saya ketika SMA dihukum atau bahasa sebahagian teman DIPECAT. Beliau diturunkan level keanggotaannya karna sesuatu dan lain hal.

Saya tidak terima, saya protes dengan cara tidak hadir di pertemuan lagi. Tapi yang aneh, ustadz kesayangan saya yang dihukum itu justru tetap hadir di pertemuan, walaupun harus duduk manis bersama mantan-mantan binaanya di kelas MUDA.

Aneh kan saya. hehehehe…yang saya bela ternyata tetap hadir di pertemuan malah saya yang berhenti.

Ustadz yang dihukum ini baru saja diamanahi amanah yang jauh lebih berat sebagai pimpinan jamaah level propinsi, karena kesabarannya bersama jamaah. Semoga Allah memberikan kekuatan kepadamu Ustadz untuk memikul amanah da’wah yg semkin berat ini.

Singkat cerita, setelah lama menjalani status sebagai PENGANGGURAN sekaligus PENGAMAT DA’WAH, membuat saya jenuh juga. Saya mulai rindu dengan ikhwah-ikhwah, mulai rindu dengan PERTEMUAN, MABIT. Rindu akan amanah, rindu akan kerja-kerja da’wah. Saya ingin kembali bangkit menjadi PEMAIN, yang siap menghantarkan bola-bola amanah da’wah menuju sasarannya. Saya mulai benci menjadi PENGAMAT, yang serba tau segalanya, saya benci jadi PENONTON yang hanya bisa menyoraki para pemain ketika mereka salah dalam mengoper bola, dan kadang hanya membuat ONAR di lapangan pertandingan.

Dari situlah saya mulai merenung; APAKAH BETUL ADA YANG SALAH DENGAN JAMAAH INI? atau jangan-jangan SAYA YANG BERMASALAH?

Jawabannya ternyata;

SAYA YANG BERMASALAH !!

(Sebuah ‘sentilun’ dari Abu Rindu Tausiyah)

***

Semoga bisa jadi bahan evaluasi diri bagi kita, tidak hanya dalam konteks provinsi, tapi juga dalam bagian terkecil kita. Kampus misalnya. Sebenarnya, tidak ada yang hambar, yang ada adalah sikap kita yang menghambarkan semua yang ada.

Sumber: http://dhekasasmita.wordpress.com/

Posted on 17/10/2011, in :Oase:. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: