Saat yang Lain Berani Buka-bukaan, Jilbab Tetap Jadi Identitasku

Oleh: Adrian Fetriskha

International Hijab Solidarity Day

Hari kamis lalu saya mendapatkan sepenggal sms dari adik-adik di kampus, informasi tentang pawai IHSD tanggal 10 september 2011, start di halaman kantor gubernur. Pada bagian akhir sms terdapat sebuah kalimat yang memaksa saya untuk berfikir, disana tertulis.. “syiar jilbab bukan hanya tanggung jawab akhwat, mohon bantuannya untuk ikut berpartisipasi ”.

Partisipasi apa yang bisa saya berikan ya? Menyumbangkan jilbab rasanya tidak, karena saya tidak punya jilbab, membuat pernak pernik bunga jelas saya tidak bisa, hadir pawai dari awal sampai akhir juga tidak sempat karena ada jadwal lembur,.. hmm.. ya, tulisan saja, ini dulu mungkin yang bisa saya berikan untuk saat ini bagi da’wah muslimah.. entah tulisan ini bermanfaat atau tidak, yang jelas akan menambah satu angka lagi pada mesin pencari google untuk memasukkan IHSD di dalamnya..

Kalau berbicara tentang jilbab maka tidak luput dari ingatan kita tragedy 1 juli 2009 di Jerman, pelecehan terhadap jilbab dan pembunuhan sadis Marwa Al–sherbini  seorang muslimah mesir oleh seorang pemuda rasis Jerman berkebangsaan Rusia. Tragedy ini mampu menyentakkan umat muslim di belahan Timur dan Barat dunia. Muslimah yang berusia 32 tahun ini tengah hamil, ditikam sebanyak 18 kali hingga tewas di sebuah ruang pengadilan di timur Dreseden. Suaminya yang akan melanjutkan S-2 juga terluka saat berusaha menolong sang istri.

Seruan keprihatinan dan usulan mengabadikan tragedy yang memilukan ini datang dari berbagai belahan dunia. Peristiwa ini memperkuat konferensi pro-hijab tanggal 12 Juli 2004 di London, yang dari konferensi tersebut dideklerasikan bahwa setiap tanggal 4 September ditetapkan sebagai Internasional Hijab Solidarity Day (  IHSD ).

Marwa Al – sherbini dan banyak muslimah lain dibelahan sana bertarung dengan pelecehan dan kematian untuk mempertahankan jilbabnya. Mereka yang sebagian tidak lahir dari orangtua yang muslim, tidak melihat mesjid sebanyak kita menemukan mesjid dinegeri ini, tidak mengenal Alquran sejak kecil, tapi mereka faham betul dengan surat Al Ahzab :59

Wahai Nabi, Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri orang mukmin” Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Disini, di negeri ini, banyak wanita yang enggan untuk berjilbab dengan benar. Saya pernah tanya beberapa teman yang tidak memakai jilbab alasannya sungguh beragam, mulai dari yang sepele sampai yang sepele lagi, eh, intinya alasannya sepele saja, tidak jelas, mengada-ada, mencari-cari alasan pembenar. Misal: saya belum siap, entah kesiapan apa yang ditunggu. Saya masih banyak dosa belum pantas berjilbab, ya, emangnya mau ditunggu sampai kapan, emangnya ada orang yang tidak berdosa, saya takut tidak dapat jodoh karena tidak terlihat cantik, ohoo ampun denai.. ini alasan yang menggelikan.. apa ia fikir semua yang tidak berjilbab telah bertemu dengan jodohnya dan menikah, hoho.. tidak.. tidak. Jadi ga ada alasan sebenarnya untuk tidak berjilbab,

Masalah tidak cantik dan takut tidak laku ini, memang cukup dominan sebagai alasan bagi para wanita untuk tidak berjilbab. Sepertinya saya perlu menghubungi LSI untuk melakukan survey tentang persentasi wanita berjilbab yang telah menikah dengan persentasi wanita tidak berjilbab yang telah menikah..

Entahlah, ingin terlihat cantik tampaknya selalu dilakukan dengan cara tidak berjilbab, inilah korban iklan-iklan televisi.. Televisi telah memberikan kriteria cantik hanya sebatas: rambut panjang tidak rontok, wajah putih dan tubuh langsing.. itu saja, jadi kalau ada yang berjilbab artinya tidak cantik, karena menyembunyikan rambutnya yang tidak lurus.. begitu seterusnya.. tapi benarkah cantik itu seperti yang digembar gemborkan televisi, oho, tidak.. cantik itu sangat relative.. tahu tidak dahulu orang pernah menggap cantik itu adalah orang yang lebih berisi bukan langsing, lihatlah ukiran-ukiran di candi. cantik juga pernah disematkan pada orang yang berleher panjang, dst (nantilah saya jelaskan ini pada bab lain) intinya, cantik itu bukan rambut panjang, kulit putih, atau langsing saja, yang karena alasan itu dan ingin memamerkannya lalu memilih untuk tidak berjilbab.

Ahh, saya ingin berciloteh panjang lebar lagi tentang jilbab ini, termasuk beberapa tips dan trik untuk padu padan warna jilbab dan gamis (hah, seperti mengerti saja, ya paling tidak soal padu padan warna di coreldraw saya sedikit tahulah, dan dapat bocoran juga dari adik), ingin bertutur juga tentang keuntungan berjilbab dan lainnya, tapi pada kesempatan lain saja lah,,

Sebagai penutup, saya ambil tag line pada spanduk IHSD yang tadi pagi saya lihat ”saat yang lain berani buka-bukaan, jilbab tetap jadi identitasku”. Mantap.. bagi muslimah, saatnya berjilbab..

Sumber: http://www.facebook.com/notes/adrian-fetriskha/saat-yang-lain-buka-bukaan/10150280564873059

Judul Asli: Saat yang lain buka-bukaan

Posted on 15/09/2011, in :Kemuslimahan:, :Syiar Kampus:. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: