Menikmati Tarawih di Timur Tengah

Oleh: Irsyad Syafar, Lc (Pimpinan Perguruan Islam Ar-Risalah Padang)

Padang Ekspres. Alhamdulillah, dengan izin Allah dan kemudahan dari-Nya, sejak tahun 2003 sampai sekarang, penulis dapat menikmati Ramadhan di beberapa Negara Timur-Tengah (Timteng). Khusus tahun ini penulis sempat merasakan puasa di kairo dan Kuwait.

Ramadhan 1432 H ini memang merupakan Ramadhan yang berat di hampir semua Negara Timur Tengah. Sebab, bertepatan dengan puncak musim panas. Di Mesir suhu mencapai 400 C, sedangkan di Kuwait pada subuh hari saja sudah mencapai 380 C. bahkan, siang hari melewat 500 C. Disamping suhu sangat panas, ditambah lagi dengan siang lebih panjang. Jarak antara sahur dengan berbuka melebihi 15 Jam.

Walaupun siang hari dihantam suhu begitu panas, namun masyarakat muslim di Timteng tidak terhalang melaksanakan ibadah Tarawih secara maksimal di malam harinya. Masjid-masjid tetap ramai dipenuhi kaum Muslimin yang antusias menghidupkan malam-malam Ramadhan. Bahkan, tidak sedikit masjid-masjid yang kemudian menambahkan tenda dan tikar-tikar di luar masjid untuk menampung jamaah yang membeludak.

Berbeda dengan kondisi kebanyakan masjid-masjid kita di tanah air, jamaah Tarawih di Timteng semakin hari semakin bertambah. Semakin ke ujung Ramadhan masjid semaki  penuh dan sesak. Bila telah memasuki sepuluh hari terakhir, maka jumlah jamaah shalat Tarawih semakin ramai. Apalagi pada malam ke-27 yang diyakini sebagai malam yang paling berpeluang sebagai lailatul qadr.

Dalam pelaksanaan Shalat Tarawih di Timteng, tidak ada perdebatan lagi antara 20 rakaat dengan 8 rakaat. Masing-masing telah saling memahami. Di Mekkah, Madinah, Masjidil Aqsa sama-sama 20 rakaat. Di masjid besar Kuwait, Kairo, Dubay, Abu Dhabi, Doha dan lain-lain, mayoritas melaksanakan 8 rakaat. Tetapi ada yang menjadi persamaan antara masjid-masjid tersebut, yaitu mayoritas berusaha mengamalkan sunnah Rasulullah saw dan para sahabat dengan menuntaskan 1 Juz Al-Qur’an dalam 1 malam. Yang 8 rakaat berdiri lebih lama, tapi rakaatnya sedikit. Yang 20 rakaat berdirinya lebih pendek, tetapi rakaatnya banyak. Keduannya hampir bersamaan selesai shalat Tarawih. Dan, biasannya pada malam ke-29 mereka sudah khatam Al-Qur’an dalam shalat Tarawihnya.

Di samping itu. Terlihat bagaimana semangat dan antusiasnya mereka dalam melaksanakan Shalay Tarawih, dengan mendatangkan imam-imam yang berkualitas dari berbagai Negara lain. Ini terjadi terutama di Negara-negara teluk yang kaya raya seperti Kuwait, Qatar dan Uni Emerat Arab. Banyak masjid di Negara kaya tersebut yang mendatangkan imam-imam Tarawih mereka dari Mesir, Yaman, Somalia dan Sudan. Imam tersebut dikontrak sebulan penuh. Mereka hafal Al-Qur’an dan memiliki kualitas bacaan yang bagus. Bahkan, di antara imam-imam tersebut ada yang hafal Al-Qur’an dengan tujuh macam bacaan (qiraat sab’ah). Sehingga, mereka di saat menjadi imam shalat Tarawih, mempergilirkan ketujuh bacaan tersebut dari satu malam ke malam berikutnya.

Sebagian masjid yang memiliki financial yang kuat, malah mempu mendatangkan dua imam sekaligus untuk imam Tarawih. Imam pertama untuk shalat Isya dan empat rakaat Tarawih. Lalu, Imam kedua untuk empat rakaat berikutnya sekaligus Shalat Witir.

Dalam pelaksanaan shalat tarawih, imam berusaha untuk mencocokkan irama bacaannya dengan tema ayat yang dibaca. Bila ayat-ayat yang dibaca bertemakan azab, siksa, neraka dan sejenisnya, maka iramanya bernuansa sedih dan takut. Sehingga, tidak sedikit jamaah shalat tersebu yang menangis. Apalagi mayoritas jamaah yang ikut shalat paham dan mengerti bahasa Arab. Sehingga, bacaan tersebut betul-betul berpengaruh ke dalam hati dan jiwa.

Bila rakaat terakhir dari shalat Witir, maka imam akan membaca doa Qunut yang agak panjang. Doa mencakup permohonan ampun, taubat dan istighfar. Meminta keberkahan dan keamanan, serta kesejahteraan bangsa dan Negara. Memohon kejayaan Islam dan kaum muslimin di seluruh dunia, mendoakan umat Islam yang masih tertindas dan terjajah di Palestina, Irak, Afghanistan dan belahan bumi lainnya. Doa-doa Qunut ini juga ikut menguras air mata para jamaah.

Dengan pelaksanaan shalat Tarawih seperti ini, bila selesai shalat dan keluar masjid, terasa sekali khusyuk dan ketenangan hati. Suatu hari, mudah-mudahan aka nada masjid di Sumatera Barat, yang memiliki imam yang hafal Al-Qur’an, mengkhatamkan Al-Qur’an dalam shalat tarawih dan jamaahnya membeludak. Amiin Yaa Allah.

About fsinuruljannah

Lembaga Dakwah Kampus Universitas Bung Hatta, Padang, Sumatera Barat.

Posted on 17/08/2011, in :Syiar Kampus:. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: