Pemuda Akhirat itu…

Oleh: Setia Furqon Kholid

Suatu ketika,

ada seorang lelaki muda, enejik, supel dan sangat cerdas. Ia menjadi lulusan terbaik dari sebuah perguruan tinggi ternama di negeri ini.

Seperti banyak impian pemuda sebayanya, lulus cepat dan diterima di sebuah perusahaan bonafit dengan tawaran gaji yang menggiurkan pun ia dapatkan. Tak ayal banyak teman-temannya yang iri dengan pencapaian-pencapaian yang telah ia lakukan. Namun, amat disayangkan, hanya satu tahun ia bekerja di perusahaan ternama yang sedikit saja orang yang dapat diterima disana. Sang pemuda memutuskan untuk keluar dan menemukan saripati kehidupan.

lalu, apa yang dilakukannya?

ia berkeliling seorang diri, dari satu kota ke kota lainnya, dari satu kampung ke kampung lainnya. Uniknya, yang ia lakukan adalah membantu siapapun yang dapat dibantu. Menghidupkan masjid yang telah mati, dan mengajari dengan sabar anak-anak kecil yang ingin belajar Quran atau Iqro. Lalu bagaimana dengan segudang prestasinya? Tidakkah amat disayangkan potensinya yang dapat menjadi seorang bisnisman sukses?

Ternyata inilah jalan hidup yang ia putuskan. Menjadi hamba Allah yang memberikan manfaat bagi banyak orang.

Walaupun banyak tetangga di sekitar rumah orang tuanya yang menghinda, mencemooh dan menyayangkan keputusannya yang dianggap “bodoh” itu.

Suatu saat, seorang sahabat dekat menanyakan perihal keputusannya tersebut. Bahkan sahabat itu memberikan alternatif lain untuk berkarya dan bermanfaat dengan cara yang lebih elegan. Namun, ia menolak tawaran itu dengan santun.

Tahukah Sahabat, setelah diselidiki.

Ternyata beberapa tahun silam, pemuda berbakat dan berkarakter itu divonis terkena sebuah penyakit dan diprediksikan bahwa hidupnya hanya tinggal hitungan tahun bahkan bulan.

AllahuAkbar!

Sahabat, bagaimana jika hal ini terjadi pada diri kita?

Saat Allah memberi tahu lewat perantara manusia tentang sisa waktu kita di dunia.

Apa yang akan kita lakukan? Masih adakah impian duniawi itu? Adakah kebanggaan atas titel dan prestasi yang diraih?

Bayangkan jika waktu kita di dunia hanya hitungan hari.

Apa yang pertama kali akan kita lakukan??

Semoga kisah nyata ini dapat menggugah dan menginspirasi kita untuk tidak menunda amal kebaikan.

Justru karena kematian kita tak pasti, harus lebih berhati-hati dalam melangkah, memperbanyak bekal, dan tak pernah menunda kebaikan.

Sumber:  http://www.setiafurqonkholid.blogspot.com/

About fsinuruljannah

Lembaga Dakwah Kampus Universitas Bung Hatta, Padang, Sumatera Barat.

Posted on 12/07/2011, in :Oase:. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: