Kemana tujuan kita?

Oleh: Isa Alamsyah (Penulis Buku No Excuse/ Suami Asma Nadia)

Seorang pemuda menghentikan taksi di pinggir jalan dan segera naik ke kursi belakang.
Setelah pintu ditutup, sang supir bertanya, “Mau ke mana Pak?”
“Saya tidak tahu?” jawab pemuda itu tenang.
“Lalu saya harus bagaimana?” tanya sang supir.
“Terserah Bapak, yang penting saya bayar, jawab sang pemuda.
Apa selanjutnya yang terjadi?
Supir hanya berputar-putar saja,

terus berputar putar sampai akhirnya supir kelelahan dan tidak
tahu arah. Setelah berjam-jam berputar, akhirnya supir kembali ke tempat
pemuda naik, dan diam lama sekali. Argo tetap berjalan.
Lalu pemuda tersebut keluar dan membayar seluruh biaya ratusan ribu rupiah untuk
berada ditempat asalnya?
Pemuda itu menghabiskan waktu dan biaya tanpa pindah ke mana-mana.

Siapakah pemuda itu?
Pemuda itu adalah gambaran kita yang tidak punya tujuan hidup? Tidak punya cita-cita tinggi.
Jika kita tidak punya tujuan hidup, dan melakukan perjalanan hidup,

maka besar kemungkinan kita kembali ke situ-situ saja.

Banyak orang yang merasa sudah punya tujuan hidup.
Tapi sebenarnya ada di situ-situ saja.
Sejak kecil kita sekolah.

Setiap tahun berusaha naik kelas tujuannya supaya bisa melanjutkan sekolah.

Lalu belajar lagi, supaya naik kelas dan bisa melanjutkan sekolah.

Lalu melanjutkan kuliah begitu seterusnya.
Ketika ditanya untuk apa sekolah, maka jawabannya “supaya dapat kerja”

Sesedarhana itukah?
Lalu ditanya apa tujuan kerja.
Jawabannya “supaya bisa makan”. Sesederhana itukah?
Lalu punya anak, anak disekolahkan, tujuannya supaya bisa kerja, nanti bisa makan.

Dan begitu seterusnya.
Kelihatannya mereka menjalani hidup, tapi tidak ada nilai tambahnya. Itu-itu saja?

Hidup untuk sekedar bisa makan agar tetap hidup.

Mencari uang untuk membiayai anak menyiapkan anak biar bisa cari makan agar tetap hidup.
Jika hidup hanya untuk bisa makan atau bertahan hidup (surviving), dan semua hal yang dilakukan dalam
hidup sekedar agar bisa makan atau bertahan hidup,

lalu di mana istimewanya kita sebagai manusia.
Semoga kita tidak termasuk manusia yang hidup sekedar untuk hidup.
Semoga kita tidak termasuk manusia yang hidup hanya berputar-putar begitu-begitu saja,

karena tidak ada tujuan yang jelas mau di bawa kemana hidup kita.
Semoga kita tidak termasuk orang yang mengisi hidupnya dengan kesia-siaan?

Karena itu mulai set up goal kita yang lebih besar.

Buat cita-cita yang lebih tinggi.

Rencanakan masa depan lebih matang untuk diri sendiri dan untuk keluarga, untuk masyarakat, untuk bangsa dan untuk dunia.

Rasulullah bersabda

“Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)

Quran Surat Al-Anbiyaa’, ayat 107:

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”

No Excuse! for Strong Family

Think Dinar for financial power

Anda Sakinah Spirit for family Happiness
Bagaimana? Kita pasti bisa!

 

Sumber:

BISA ACADEMY

For a Better You!

About fsinuruljannah

Lembaga Dakwah Kampus Universitas Bung Hatta, Padang, Sumatera Barat.

Posted on 05/07/2011, in :Oase:. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. …sehingga sifat hati yang
    JUJUR, TAWADHU, dapat DIPERCAYA, IKHLAS, SHOHIBUL IBADAH dan SALIMUL AQIDAH
    akan jadi hal yang selalu dilakukan&terbentuk dg sendirinya saat manusia memahami bahwa
    Manusia yg Punya Tujuan Hidup adl Manusia yg Tau Tempat Akhir Setelah Dunia ini…
    FSI NURUL JANNAH keep ALLAHU GHOYATUNA!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: