Kaitan Dakwah Kampus dan Ilmu Pengetahuan

Oleh: Ridwansyah Yusuf Achmad

Mengapa Dakwah Ilmiy harus ada ? Apa kaitannya antara Dakwah Islam dan Perkembangan Ilmu Pengetahuan ?

Sahabat Aktivis Dakwah Kampus, Allah berfirman dalam surat Al Mujadilah ayat 11; “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan”. Saya akan memulai sedikit kajian ini dengan ayat tersebut. Sebuah keniscayaan bagi seorang muslim agar ia “ditinggikan” derajatnya di mata Allah bila ia memiliki sebuah Ilmu. Dengan kehadiran ilmu, ia tidak hanya akan bermanfaat untuk dirinya, namun juga untuk orang lain. Dalam konteks ini, ilmu dapat juga di ibaratkan sebuah inovasi teknologi, atau penemuan keilmuan (meski dalam Qur’an makna ilmu sangatlah luas).

Sejarah pun telah membuktikan bahwa peradaban Islam berkembang dengan dukungan keberadaan ilmu pengetahuan yang di manifestasikan dalam bentuk perpustakaan. Pada zaman emasnya, khalifah Islam menjadikan perpustakaan sebagai centre of civiliazation  bagi perkembangan Islam. Sebutlah,  perpustakaan Baghdad yang memiliki koleksi 500.000 buku, perpustakaan khalifah di Kairo yang memiliki 2.000.000 buku, atau perpustakaan Darul Hikmah di Kairo yang memiliki 40 lemari yang setiap lemarinya terdiri dari 18.000 eksemplar buku. Bisa dikatakan, sejarah keemasan Islam menunjukkan bahwa perpustakaan ternyata bukan hanya rumah baca dan gudang buku, tapi juga pabrik buku; wadah berbagai penulisan, penyalinan, penerjemahan dan penerbitan naskah serta sebagai pusat riset para cendekiawan besar.

Dan sejarah juga telah membuktikan bahwa awal mula kemunduran Islam ditandai dengan hancurnya perpustakaan-perpustakaan Islam. Hal itu berawal setelah peyerangan habis-habisan tentara Mongol terhadap Daulah Abbasiyah di Baghdad pada tahun 1258. Tentara Mongol tidak menyisakan satupun perpustakaan, semuanya dibakar habis. Dikabarkan, begitu banyaknya buku yang dibakar dan yang dibuang ke sungai laut, membuat laut di daerah Baghdad berwarna hitam oleh tinta buku tersebut. Nasib yang sama juga terjadi di Samarkand dan Bukhara serta perpustakaan Tripoli juga hancur pada saat Perang Salib berlangsung.

Bila kita sepakat dengan perkataan Ir.Soekarno, “JAS MERAH ; Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah”. Maka menjadi sebuah tuntutan bagi kita para mahasiswa Muslim untuk dapat mengulang masa emas Islam dengan kekuatan Ilmu Pengetahuan. Saat ini, dunia bersaing bukan dengan pedang atau kuda, melainkan dengan teknologi dan inovasi. Menjadi sebuah tantangan bagi kita, “bisakah kita sebagai ADK menjadikan kampus sebagai embrio peradaban Islam dengan menjadikan perkembangan ilmu pengetahuan sebagai landasan?”

Saya seringkali kehabisan kata-kata bila harus menanggapi seorang ADK yang sangat aktif namun ia sangat lemah di akademik. Sahabat, zaman sudah berbeda, para ADK dituntut untuk menjadi seorang yang teladan ekstrim, yakni seorang yang memiliki kapasitas keilmuan yang baik, akhlak yang mulia serta ibadah yang istiqomah. Alangkah bijaknya bila kita mencoba melihat secara strategis keberadaan seorang aktivis dakwah Islam di sebuah kampus. Yakni, bahwa mereka di didik bukan hanya sekedar untuk menjadi ustadz , melainkan untuk menjadi intelektual Muslim. Saat ini, masyarakat yang semakin terdidik akan lebih mendengar mereka yang intelek (sebutlah seorang Doktor) berbicara tentang agama, ketimbang hanya seorang ustadz saja tanpa latar belakang keilmuan tertentu. Dan dakwah kampus memiliki peran besar untuk mencetak intelektual Muslim sebanyak-banyaknya.

Kaitannya lainnya antara Islam dan Pengetahuan juga terletak pada visi dakwah kampus kita yang nantinya ingin mewujudkan sebuah tatanan masyarakat yang madani. Pengetahuan adalah dinamo peradaban masa depan, mereka yang menguasai ilmu pengetahuan, merekalah yang akan menguasai peradaban. Bila pemuda Islam saat ini jauh dari ilmu pengetahuan, maka akan sangat sulit untuk menikmati kejayaan Islam dalam waktu dekat. Tantangan kita sebagai mahasiswa Muslim adalah bagaimana ilmu pengetahuan yang kita dapatkan di kampus mampu bermanfaat untuk kemashalatan umat. Masyarakat membutuhkan inovasi dan pengembangan ilmu pengetahuan baru untuk mendorong kesejahteraan mereka. Harapan besar di masa datang adalah bagaimana kita mampu memanfaatkan kampus kita sebagai pendorong dari peradaban Islam itu. Untuk itu sangat dibutuhkan para calon-calon ilmuwan Islam yang mengulang kejayaan Jabir ibn Hayyam dan Muhammad ibn Zakaria ar-Rozi (ahli kimia), Ibnu Sina (ahli kedokteran), Abu Rayhan al-Biruni (Ahli Fisika dan Astronomi), Al-Khwarizmi (Ahli Matematika), Al Balkhi ( Ahli Ilmu Bumi), atau Ibnu A-Rumiyyah Abul’Abbas/Annabati (Ahli Tumbuh-tumbuhan). Tak bisa dipungkiri, keberadaan mereka di masa lalu telah menjadi tonggak perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah kita rasakan sekarang.

Dari paparan singkat ini dapat kita lihat bahwa kaitan antara ilmu pengetahuan dan perkembangan Islam sangatlah signifikan, para ilmuwan Islam diharapkan juga mampu menguatkan ayat-ayat Allah di Al-Qur’an dengan penemuan yang mereka hasilkan, para ilmuwan Islam juga akan menjadi teladan bagi masyarakat luas karena kapasitas intelektualitasnya, dan para ilmuwan Islam akan memberikan perubahan dengan mendorong peradaban Islam dengan kekuatan ilmu dan teknologi. Salah satu tanggung jawab moral bagi ADK adalah bagaimana menumbuhkan mental inovatif kepada para ADK itu sendiri.

Sumber:   http://ridwansyahyusufachmad.wordpress.com/

Posted on 23/06/2011, in :Nutrisi Fikrah:. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: